Mental Accounting

cara aneh otak kita memperlakukan uang di dompet dan di tabungan

Mental Accounting
I

Pernahkah teman-teman membongkar lemari pakaian lama, merogoh saku jaket yang sudah berbulan-bulan tidak dipakai, dan tiba-tiba menemukan uang seratus ribu rupiah yang lecek? Bagaimana rasanya? Pasti ada sedikit lonjakan kegembiraan, seolah-olah kita baru saja memenangkan lotre kecil-kecilan. Uang "temuan" ini biasanya akan langsung kita niatkan untuk membeli kopi enak sore ini, atau jajan sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Sekarang, mari kita bandingkan. Bayangkan kita baru saja mengambil uang seratus ribu rupiah dari ATM untuk membayar iuran kebersihan RT. Rasanya sangat biasa saja, bukan? Bahkan mungkin sedikit berat hati karena itu adalah pengeluaran wajib.

Padahal, jika kita pikirkan baik-baik secara matematis, nilainya sama persis. Seratus ribu di saku jaket dan seratus ribu dari mesin ATM memiliki daya beli yang tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama selembar kertas berwarna merah. Namun, mengapa otak kita memperlakukan kedua uang ini dengan cara yang seolah-olah berasal dari dua galaksi yang berbeda?

II

Keanehan ini sebenarnya membawa kita pada sebuah pertanyaan besar tentang bagaimana manusia berevolusi dalam memproses informasi. Selama berabad-abad, teori ekonomi klasik selalu berasumsi bahwa manusia adalah makhluk yang sangat rasional. Para ilmuwan dulu menyebut kita sebagai Homo economicus—manusia logis yang selalu menghitung untung rugi dengan kepala dingin layaknya kalkulator berjalan.

Namun, kenyataannya otak kita tidak berevolusi untuk menjadi akuntan yang presisi. Ratusan ribu tahun yang lalu di padang sabana, leluhur kita bertahan hidup dengan cara mengotak-ngotakkan sesuatu dengan cepat untuk menghemat energi mental. Mereka memisahkan mana buah yang beracun dan mana yang aman. Mana hewan predator dan mana yang bisa diburu.

Kemampuan membuat "kategori" ini sangat brilian untuk bertahan hidup di alam liar. Masalahnya, dunia modern bergerak terlalu cepat, dan evolusi otak kita tertinggal. Sistem pengelompokan purba yang dulu dipakai untuk membedakan jenis buah beri, kini digunakan oleh otak kita untuk membedakan uang. Di sinilah rasionalitas kita mulai retak, dan tanpa kita sadari, dompet kita sering menjadi korbannya.

III

Mari kita lakukan sebuah eksperimen pikiran yang sangat terkenal di dunia psikologi. Bayangkan teman-teman sudah menabung untuk menonton konser musisi favorit. Harga tiketnya lima ratus ribu rupiah.

Skenario pertama: Kita tiba di lokasi konser, merogoh tas, dan menyadari bahwa tiket yang sudah kita beli ternyata hilang jatuh di jalan. Apakah kita akan rela mengeluarkan lima ratus ribu lagi untuk membeli tiket baru di loket? Sebagian besar orang akan menjawab: tidak. Rasanya terlalu menyakitkan, seolah kita membayar satu juta untuk sebuah konser.

Skenario kedua: Kita belum membeli tiket. Kita tiba di lokasi konser dengan niat membeli langsung di loket. Namun saat membuka dompet, kita sadar uang lima ratus ribu rupiah kita hilang entah ke mana. Untungnya, masih ada sisa uang lain di rekening atau kartu kredit. Apakah kita tetap akan membeli tiket konser tersebut? Secara mengejutkan, sebagian besar orang menjawab: ya.

Tunggu sebentar. Coba kita renungkan. Di kedua skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan nilai lima ratus ribu rupiah. Secara finansial, kerugiannya identik. Lalu, sakelar gaib apa yang tiba-tiba menyala di dalam kepala kita, yang membuat kita menyerah di skenario pertama, tapi tetap maju di skenario kedua?

IV

Jawaban dari misteri ini adalah sebuah konsep psikologi yang disebut Mental Accounting (akuntansi mental). Istilah ini dicetuskan oleh Richard Thaler, seorang ilmuwan jenius yang akhirnya memenangkan Hadiah Nobel.

Thaler membuktikan bahwa otak manusia menolak satu fakta dasar tentang uang: bahwa uang itu fungible atau dapat saling menggantikan. Secara ilmu pasti, satu rupiah ya tetap satu rupiah, tidak peduli dari mana asalnya dan untuk apa tujuannya. Tapi otak kita menolak fakta itu. Otak kita secara diam-diam membuat "rekening-rekening imajiner" di dalam kepala.

Kembali ke eksperimen konser tadi. Di skenario pertama, saat tiket kita hilang, otak kita melihat bahwa saldo di rekening imajiner bernama "Bujet Hiburan" sudah habis terpakai. Membeli tiket lagi terasa seperti kebangkrutan hiburan. Sedangkan di skenario kedua, saat uang tunai yang hilang, otak memasukkannya ke dalam rekening imajiner "Nasib Buruk" atau "Kerugian Umum". Rekening "Bujet Hiburan" kita masih utuh, jadi kita merasa sah-sah saja untuk membeli tiket.

Mental accounting inilah yang menjelaskan mengapa kita bisa begitu pelit untuk membayar biaya admin bank sebesar dua ribu rupiah, tapi dengan mudahnya menghabiskan lima juta rupiah dari uang bonus tahunan untuk membeli gawai baru. Uang gaji masuk ke folder "Uang Serius", sedangkan uang bonus, uang kembalian, atau uang dari saku jaket masuk ke folder "Uang Main-main". Bahkan, ini menjelaskan fenomena irasional di mana seseorang rela membiarkan utang kartu kredit berbunga 20% menumpuk, hanya karena tidak mau mengganggu uang di tabungannya yang berbunga sangat kecil. Otak merasa aman melihat tabungan utuh, mengabaikan fakta bahwa secara total kekayaannya sedang tergerus pelan-pelan.

V

Lalu, apakah ini berarti kita semua bodoh secara finansial? Tentu saja tidak. Ini hanya membuktikan bahwa kita adalah manusia biasa dengan desain arsitektur saraf yang luar biasa kompleks.

Mengetahui kelemahan ini adalah kunci pertama untuk meretas kembali otak kita. Kita tidak perlu merasa bersalah atas "glitch" atau celah ini, tapi kita bisa mulai mengawasinya. Mulai sekarang, setiap kali kita mendapat uang kaget—entah itu bonus, pengembalian pajak, atau uang di saku celana—ingatkan diri kita sendiri: semua uang bentuknya sama.

Kita bisa mengakali mental accounting dengan memaksakan logika. Anggaplah uang bonus sebagai bagian dari gaji tahunan yang dicicil secara acak. Saat kita sadar bahwa pikiran kita mulai membuat laci-laci imajiner, tarik napas sejenak, hancurkan sekat-sekat itu, dan lihatlah uang kita sebagai satu kesatuan utuh. Menjadi cerdas secara finansial ternyata tidak melulu soal pandai matematika, teman-teman. Terkadang, ini hanya soal mengenali kebiasaan lucu otak kita sendiri, dan tersenyum sambil perlahan-lahan memperbaikinya.